This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

MEMBANGUN KUALITAS PENDIDIKAN DI TENGAH ERA GLOBAL

Membangun Kualitas Pendidikan di Tengah Era Global  

 DALAM era global saat ini, setidaknya ada beberapa tuntutan yang harus segera mendapat perhatian serius oleh dunia pendidikan. Di antaranya adalah pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas dan mempunyai dedikasi tinggi, tersedianya jaringan informasi yang mampu mengakses segala kebutuhan terhadap pemenuhan pendidikan. Inilah barangkali suatu mimpi yang harus dibangun dan lakukan oleh pendidikan nasional.

Derasnya arus budaya dan informasi dari Barat yang tidak dapat lagi dibendung, merupakan suatu kenyataan logis bahwa dalam era global sekarang ini semuanya menjadi satu entitas (kesatuan). Karena perubahan tersebut selalu diikuti dengan kecanggihan ilmu dan teknologi. Budaya yang masuk ke negara kita telah mempengaruhi gaya hidup (life style) masyarakat yang semakin maju. Fenomena yang terjadi adalah sikap konsumen masyarakat meniru (imitasi) perilaku Barat. Setidaknya budaya tersebut berimplikasi pada pembentukan pola pikir dan tingkah laku masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan juga tidak menuntut kemungkinan bisa mengikis kesadaran budaya lokal secara berlahan-lahan.

Sebagai upaya untuk menangkal atau mengadaptasikan budaya tersebut maka sangat tergantung pada mutu dan produk pendidikan sebagai proses penyadaran. Namun ada beberapa parameter untuk mengukur kadar sampai seberapa jauh intensitas keseriusan pemerintah dalam mencerdaskan dan menyadarkan masyarakat dan bangsa ini. Pendidikan kita nampaknya masih banyak mengandung muatan-muatan filosofis dan fiksi. Apalagi bicara tentang membendung budaya luar yang semakin “gila” itu. Hal ini bisa kita saksikan bahwa sistem pendidikan kita masih banyak terlibat pada bias-bias atau kepentingan-kepentingan politik, belum bisa mandiri (otonom). Karena itu, sesungguhnya banyak pula “korban” yang telah dihasilkan oleh pendidikan masa lalu, akibat adanya polarisasi politik yang luar bisa hebatntya.

Kondisi pendidikan di negara kita, dinilai banyak pengamat 60% lebih gagal total. Meskipun kuantitas lembaga pendidikan menjamur dimana-mana, tetapi hasilnya sangat tidak maksimal dan memperhatinkan. Inilah fenomena dan kondisi pendidikan nasional yang sangat memerlukan penanganan serius oleh para ahli atau pakar pendidikan secara profesional dan sungguh-sunguh. Sehingga krisis yang berimplikasi pada semua bidang kehidupan secara luas juga ditentukan oleh salah satunya dari krisis mutu pendidikan itu.

Beberapa dekade terakhir ini, pendidikan kita banyak diwarnai dengan polarisasi politik. Faktor politiklah yang banyak ikut membentuk dan mempengaruhi sistem pendidikan ini, sehingga tidak bisa berjalan secara baik dan maksimal sebagaimana kita harapkan bersama. Kadang-kadang pendidikan dapat dijadikan sebagai mobilisasi untuk melegalkan serta memperkuat kekuasaaan. Akibatnya, citra pendidikan seperti ini menjadi pudar diterpa badai politik oleh kepentingan orang-orang yang bernafas pendek. Budaya politik yang sangat otoriter dan angkuh itu dapat mematikan sistem pendidikan yang seharusnya dapat tumbuh dan berkembang secara cepat dan tepat dan seharusnya pula mampu mengejar ketertinggalan dengan mutu pendidikan luar negeri.

Kartono Kartini mengajukan sebuah sistem pendidikan demokrasi sebagai pilihan, baik pilihan sistem pendidikan maupun sistem politik. Dasar argumennya adalah kesadaran berbangsa dan bernegara itu sendiri muncul dalam masyarakat Indonesia. Karena keinginan untuk merdeka dan demokrasilah yang bisa menjamin kemerdekaan tersebut, dan dengan demikian, membawa cita-cita modernisasi.

Penjabaran dari sistem pendidikan di atas, merupakan tujuan bersama rakyat, melalui negara antara lain kemerdekaan dan mengembangkan kepribadian melalui pendidikan. Sedangkan tujuan pendidikan itu sendiri adalah “membebaskan diri dari berbagai belenggu” atau tegasnya membentuk individu yang paripurna dan bertanggung jawab.

Di samping itu, pendidikan juga bertujuan untuk menumbuhkan kepribadian yang utuh, memperkaya rohani, melatih berfikir, melatih gelisa untuk bertanya dan mencari jawaban sendiri. Tugas pendidikan sebenarnya mengajak untuk sadar diri dan mengerti serta mampu mempraktekkan dalam kehidupan secara riil. Sayangnya, sejauh yang penulis ketahui, bahwa masih banyak para siswa dan tenaga pendidik yang kurang sadar dan memiliki kepekaan tinggi.

Seperti yang dikemukakan oleh Paulo Freire (tokoh yang cenderung kiri) mengemukakan dalam thesisnya mengenai pendidikan kaum tertindas. Beliau mengajukan sebuah metode konsientinasi (penyadaran). Metode ini sangat baik untuk dijadikan landasan sebagai sistem pendidikan di negara kita. Dengan metode ini diharapkan pendidikan akan memperlihatkan pencerahan dan tumbuhnya bagi sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang demikian ini, akan merangsang jiwa untuk sadar diri, berkreasi dan berimajinasi.

Paul Freire mengecam pendidikan gaya “bank”, sebuah model pendidikan yang tidak mendorong tumbuhnya iklim kondusif untuk bisa maju dan tidak pula menghormati kemerdekaan manusia. Melalui model pendidikan tersebut, siswa dibiarkan tidak diberi kesempatan untuk berfikir, bertanya dan berdialog atau tukar pikiran. Mereka harus “tunduk dan pasrah” kepada guru setiap apa yang disampaikan, tidak diberikan umpan balik sama sekali dan bahkan menghukumnya apabila siswa terlalu “vokal dan kreatif” sehingga membuat guru resah. Siswa diibaratkan oleh Paulo Freire sebagai “celengan atau pundi-pundi” yang diisi tampa peduli diserap atau tidak.

Sistem pendidikan seperti ini dapat dijumpai di sana-sini pada pendidikan yang ada. Secara kuantitas, lembaga sekolah (pendidikan) memang memadahi, tetapi kondisi dan gaya seperti itu mana mungkin akan melahirkan sebuah generasi yang berkualitas dan memiliki daya saing dengan keluaran pendidikan dari luar negeri. Banyak lembaga sekolah, baik swasta maupun negeri yang hanya mampu menampung siswa untuk belajar, tetapi belum siap membina dan mengelolanya secara profesional. Inilah kendala kinerja pendidikan yang masih semrawut.

Fenomena di atas, tidak dapat dielakkan lagi dari pandangan kita. Lalu sebenarnya di manakah jalan keluarnya untuk memecahkan persoalan tersebut? Mantan rektor Universitas Indonesia (UI), Mahar Mardjono, mengemukakan bahwa jika membangun kualitas, maka sarana pendidikan, lingkungan pendidikan,  dan sumber daya manusia harus dilengkapi sebaik-baiknya. Selain itu, jumlah pelajar harus dibatasi, supaya perhatian guru bisa konsentrasi kepada anak didik.

Di samping itu, tenaga pendidik harus qualified dan memberi waktunya dengan penuh. “Dengan memilih ini, berarti kita akan dapat memberikan pendidikan tersebut bagi sebagian besar orang yang juga membutuhkannya”. Tenaga pendidik juga bisa diambil dari mana saja asalkan mempunyai kredibilitas yang memadahi serta dapat dijadikan contoh secara psikologis bagi siswa.

Demikain pula fasilitas fisik juga mendukung terhadap kondusifitas proses belajar mengajar. Ini harus diperhatikan oleh pendidikan supaya kenyamanan belajar dan interaksi antara guru dan siswa dapat berlajan maksimal. Fasilitas yang perlu dipenuhi itu, seperti laboratorium, perpustakaan, tempat latihan-latihan olah raga, serta sarana pendukung lainnya.

Pendidikan yang baik diibaratkan sebuah “aquarium” yang di dalamnya terdapat ikan pilihan, sirkulaisi udara yang seteril, makanan yang berkualitas, perawat yang profesional dan seterusnya. Begitu juga pendidikan, semua yang berkaitan dengan kelengkapan pendidikan atau proses belajar mengajar harus dilengkapi supaya kegiatan tersebut dapat berjalan dengan sempurna.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
   
SUMBER:http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1956:membangun-kualitas-pendidikan-di-tengah-era-global&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210

HUBUNGAN KERJA SAMA SEKOLAH DAN MASYARAKAT

Hubungan Kerja Sama
antara Sekolah dengan Masyarakat


Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat, serta mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensukseskan program-program sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis.

Bentuk-bentuk hubungan kerja sama sekolah dengan masyarakat antara lain :
1.    Mengikutsertakan guru dan siswa dalam kegiatan masyarakat
Partisipasi warga sekolah, termasuk guru dan siswa dalam kegiatan masyarakat sekitarnya, misalnya dalam kegiatan kerja bakti, perayaan-perayaan hari besar nasional atau keagamaan, sanitasi, dan sebagainya. Selain itu keikutsertaan guru dan siswa dalam kegiatan masyarakat bisa ditunjukkan dengan adanya program baksos (bakti sosial) untuk masyarakat yang kurang mampu ataupun yang terkena musibah/ bencana, kegiatan bazar sekolah dengan memamerkan hasil karya siswa, termasuk pementasan karya tulis, karya seni dan karya keterampilan pada saat HUT RI, kunjungan guru ke rumah tokoh masyarakat.
Hal ini akan menambah kesan masyarakat sekitar akan kepedulian sekolah terhadap lingkungan sekitar sebagai anggota masyarakat yang senantiasa sadar lingkungan demi baktinya terhadap pembangunan masyarakat. Bagi sekolah sendiri, kegiatan tersebut dapat melatih para siswanya untuk lebih mudah dalam bersosialisasi dengan masyarakat dan untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap sesama.


2.    Menyediakan fasilitas sekolah untuk keperluan masyarakat
Sekolah dapat menyediakan fasilitasnya untuk kepentingan masyarakat sekitar sepanjang tidak mengganggu kelancaran kegiatan pembelajaran.
Fasilitas tersebut, misalnya:
a.    Lapangan olah raga yang digunakan sebagai sarana olahraga anggota masyarakat di luar jam pelajaran sekolah.
b.    Halaman sekolah untuk acara sholat idul fitri / idul adha untuk agama islam
c.    LCD sekolah untuk acara perayaan HUT RI.

3.    Mengikutsertakan pemuka atau tenaga ahli di masyarakat ke dalam kegiatan kurikuler atau ekstra kurikuler
Dalam menjalankan kegiatan yang direncanakan, sekolah tidak lepas dari dukungan masyarakat. Masyarakat sangat berperan aktif dan mempengaruhi sekolah yang ada di dalamnya. Misalkan dalam kegiatan-kegiatan tersebut:
a.    Ekstrakurikuler di bidang tarik suara, pihak sekolah bekerja sama dengan penyanyi untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
b.    Pada saat perayaan hari besar, pihak sekolah mendatangkan tokoh agama dalam masyarakat sebagai pengisi ceramah.
c.    Pada saat acara perpisahan, mendatangkan masyarakat yang berpotensi di bidang seni untuk menberikan sambutan.
d.    Sekolah mengundang organisasi atau perseorangan yang bersimpati terhadap pendidikan untuk mengadakan rapat bersama guna membahas pendidikan lingkungan dan masalah kenakalan.
e.    Sekolah mengadakan kegiatan surat-menyurat antara seorang anak yang nakal untuk dimintakan saran pembinaannya kepada seorang ahli jiwa atau ahli pendidik yang ada dalam masyarakat
f.    Sekolah mengadakan konsultasi mengenai siswanya terhadap seorang ahli yang ada dalam masyarakat, misalnya seorang siswa yang mengalami gangguan pendengaran, guru dapat berkonsultasi dengan dokter ahli THT.
Dengan acara-acara tersebut yang melibatkan anggota masyarakat dalam kegiatan sekolah, menambah kepedulian dan sikap terbuka masyarakat kepada sekolah, serta masyarakat akan merasa dihargai dan ikut berperan di dalam kegiatan-kegiatan di sekolah.

4.    Mendayagunakan sarana yang tersedia di masyarakat untuk keperluan sekolah
Hal ini dapat dilakukan dengan memandang masyarakat sebagai laboratorium untuk belajar sehingga penting bagi guru-guru untuk mengetahui fasilitas-fasilitas apa yang tersedia di dalam masyarakat yang diperlukan untuk kegiatan pembelajaran. Misalnya, sumber-sumber alam lingkungan sekitar, keadaan flora dan fauna, lapangan, jalan desa, transportasi, lalu lintas. Semua sarana tersebut dapat dimanfaatkan sekolah untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
Contoh nyata yang terjadi dalam lingkungan sekolah adalah:
a.    Memanfaatkan alam sekitar untuk media pembelajaran (sawah, perkebunan, ladang dan hutan),
b.    Memanfaatkan toko-toko dalam masyarakat untuk tempat praktik kerja siswa sesuai jurusannya,
c.    Memanfaatkan lapangan warga untuk upacara bendera Hari Nasional.

5.    Mendayagunakan potensi masyarakat sebagai salah satu unsur penanggung jawab pendidikan
Berdirinya suatu lembaga pendidikan tidak lepas dari peran masyarakat. Potensi di dalam masyarakat sangat mendukung perkembangan sekolah yang ada di lingkungannya.
Contohnya :
a.    Mengikutsertakan tokoh masyarakat dalam keanggotaan komite sekolah.
b.    Mengikutsertakan masyarakat dan komite sekolah dalam rapat perencanaan BP3.
c.    Menampung aspirasi dari  masyarakat yang memiliki potensi terhadap perkembangan pendidikan di sekolah tersebut.

6.    Mendayagunakan potensi orang tua siswa
Hubungan antara sekolah dengan orang tua diperlukan secara terus-menerus selama orang tua masih mempunyai anak yang bersekolah di sekolah tersebut. Diperlukan kerja sama antara sekolah dan orang tua demi kepentingan siswa. Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah sehingga pendidikan di sekolah dengan di rumah harus seirama. Di sinilah letak pentingnya sekolah mendayagunakan potensi orang tua dalam dunia pendidikan.
Bentuk-bentuk pendayagunaan potensi orang tua dalam mendidik anak :
a.    Mendidik mental anak
Di sini orang tua mempunyai kemampuan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik kepada anak. Hal ini bisa dilakukan oleh orang tua dengan memberikan teladan/contoh yang baik dalam berkata maupun berperilaku. Kebiasaan baik yang dilakukan orang tua tersebut secara tidak sengaja telah mengajarkan norma-norma yang baik kepada anak. Anak pun akan mengikuti kebiasaan baik dari orang tuanya.
b.    Mengembangkan bakat anak
Setiap anak mempunyai bakat-bakat tertentu, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Bakat-bakat anak tersebut perlu segera diketahui oleh orang tua anak agar dapat dikembangkan dan difasilitasi oleh orang tua sehingga bakat anak dapat berkembang dengan optimal. Misalnya, orang tua dapat memberikan les/kursus tertentu sesuai dengan bakat anak, membelikan alat-alat khusus yang dapat menunjang pengembangan bakat anak di rumah, mengikutsertakan anak dalam perlombaan yang sesuai bakat anak.



c.    Membantu anak dalam bidang pengajaran
Hal ini dapat dilakukan orang tua dengan membantu dan mendampingi anak dalam mengerjakan PR atau tugas. Jika orang tua belum mengerti materi PR atau tugas yang diberikan guru kepada anak, orang tua dapat menanyakannya pada guru atau mendampingi anak dalam mencari informasi dari media lain, seperti internet.
d.    Membantu guru dalam memecahkan permasalahan anak di sekolah
Banyak sekali permasalahan yang timbul di sekolah karena perkataan maupun tingkah laku anak. Dalam menangani permasalah siswa tersebut, sekolah bekerja sama dengan orang tua siswa karena orang tua merupakan lingkungan terdekat siswa yang memberikan banyak pengaruh kepada siswa. Masalah-masalah tersebut misalnya:
1)    Anak kurang pendengaran, penglihatan
2)    Anak cacat tubuh
3)    Anak pemalas
4)    Anak pemboros
5)    Anak pemurung
6)    Anak gagap
7)    Anak lambat belajar
Dengan pemasalahan-permasalahan tersebut, guru dapat memberikan penjelasan kepada orang tua siswa tentang kelemahan putra-putrinya apakah ia lemah fisik, atau lemah mental atau hanya sulit belajar. Dalam hal ini perlu adanya kerjasama yang harmonis sehingga tidak terjadi salah pengertian antara guru dan orang tua murid.

7.    Mengikutsertakan dunia usaha bagi kepentingan sekolah
Sekolah dapat bekerja sama dengan dunia usaha untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bidang usaha tersebut dan dunia usaha dapat pula dijadikan sponsor/penyandang dana dalam acara-acara khusus sekolah, seperti pensi, ulang tahun sekolah, dan lain-lain. Bentuk kerjasama tersebut misalnya:
a.    Sekolah bekerja sama dengan pengusaha komputer untuk mengadakan berbagai pelatihan tentang penguasaan komputer kepada para siswanya.
b.    Sekolah bekerja sama dengan usahawan untuk memberikan motivasi kepada siswa bagaimana kiat-kiat untuk mencapai kesuksesan.
c.    Sekolah bekerja sama dengan perusahaan telkomsel atau indosat untuk dijadikan sponsor / penyandang dana dalam acara-acara sekolah.
d.    Untuk sekolah kejuruan, pihak sekolah dapat mengadakan kerja sama dengan desainer untuk program tata busana, swalayan untuk program akuntansi,  bengkel untuk program teknik mesin, dan lain-lain pada saat akan mengadakan PKL.

PENTINGNYA ADMINISTRASI PENDIDIKAN


PENTINGNYA ADMINISTRASI PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

Kebanyakan orang berpendapat bahwa administrasi hanya dianggap sebagai kegiatan tulis-menulis dan pembukuan keuangan. Pandangan tersebut kadang-kadang ada benarnya juga dan bukan tidak beralasan. Secara fisik dan kenyataannya kegiatan admninistasi memang dilakukan dalam praktek tulis menulis, baik menggunakan tangan, alat tulis, mesin ketik atau komputer. padahal secara teoritis kegiatan administrasi lebih luas dari pada itu. Bukan saja sebagai kegiatan pendukung dalam melengkapai kegiatan yang ada di lapangan. Pandangan demikian itu tidak sepenuhnya juga benar.

KONSEP ORGANISASI ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN



Konsep Organisasi, Administrasi dan Manajemen

Manusia adalah homo administratikus ( Siagian, 1990 ). Pernyataan ini berarti manusia adalah makhluk yang selalu malakukan kegiatan Administrasi. Didalam kehidupannya, manusia melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia sangat beragam ditambah oleh kecenderungan manusia yang selalu tidak puas memaksa manusia untuk bekerja dan terus bekerja.

KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU


A. Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungna prses belajar-mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar-mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antar guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada siswa yang sedang belajar.

TUGAS DAN FUNGSI GURU


Tugas Guru - Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya.